Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi terkait harga tembaga di rongsokan. Data yang disajikan bersifat indikatif dan dapat berubah sewaktu-waktu, sehingga pembaca disarankan untuk melakukan pengecekan lebih lanjut sebelum melakukan transaksi atau pengambilan keputusan.
Media Logam adalah produsen kerajinan tembaga dan kuningan yang selalu menggunakan material premium berkualitas dalam setiap karyanya. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang pemanfaatan logam dalam produksi kerajinan, kunjungi halaman kami di Pemanfaatan Material Logam Media Logam Boyolali.
Meskipun artikel ini memberikan update harga tembaga rongsokan, Media Logam tidak bertanggung jawab atas perbedaan harga di pasar maupun keputusan pembelian. Untuk pertanyaan lebih lanjut mengenai produk atau layanan kami, silakan hubungi tim kami melalui Kontak Kami.
Kami berharap informasi ini dapat menjadi referensi bermanfaat bagi pembaca. Salam hangat dari Media Logam, dan selamat membaca!
Harga Tembaga di Rongsokan – Tembaga rongsokan masih menjadi salah satu komoditas yang diminati di pasar barang bekas dan industri daur ulang. Nilainya yang tinggi serta permintaan yang stabil membuat banyak orang terus memantau pergerakan harganya.
Bagi para pengepul, pemulung, hingga pelaku industri kecil, memahami dinamika harga tembaga di rongsokan menjadi langkah penting agar bisa mendapatkan keuntungan optimal dan menghindari kerugian saat transaksi.
Berikut ini adalah pembaruan harga serta berbagai faktor yang memengaruhinya dari waktu ke waktu.
Daftar Isi
Harga Tembaga di Rongsokan Minggu Ini

Harga tembaga di pengepul mengalami fluktuasi ringan selama sepekan terakhir. Di beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, harga tembaga bekas jenis merah berkisar antara Rp90.000 hingga Rp102.000 per kilogram. Sementara itu, tembaga kuning—yang umumnya berasal dari limbah kuningan atau paduan logam—berada di kisaran Rp70.000 hingga Rp78.000 per kilogram.
Di lapangan, pengepul besar melaporkan bahwa permintaan terhadap tembaga cenderung stabil, meski suplai dari pemulung dan pelaku sektor informal sedikit menurun. Hal ini disebabkan oleh cuaca hujan yang menyulitkan pengumpulan barang bekas. Meski begitu, tidak terjadi lonjakan harga yang signifikan karena stok di gudang masih mencukupi untuk memenuhi permintaan harian dari pabrik daur ulang dan industri ekspor.





